Sabtu, 25 Juli 2026, SMA Muhammadiyah Kudus menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru dalam Mengintegrasikan Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Informasi pada Metode Pembelajaran Kurikulum Merdeka.” Kegiatan ini menghadirkan Priyo Aris Abimanyu, M.Kom, seorang Widyaprada Ahli Muda dari BBPMP Provinsi Jawa Tengah, sebagai narasumber utama.
Pertanyaan besar yang menjadi benang merah pelatihan ini sederhana namun mendasar: apakah kehadiran AI di ruang kelas adalah ancaman bagi profesi guru, atau justru peluang emas untuk mengangkat kualitas pembelajaran?
Berikut rangkuman poin-poin penting dari pelatihan tersebut.
Tantangan Guru di Abad 21
Sebelum bicara solusi, peserta diajak memahami dulu akar masalahnya. Guru masa kini menghadapi setidaknya empat tantangan besar:
- Banjir informasi (information overload) — siswa bisa mengakses jutaan informasi dalam hitungan detik, sehingga guru dituntut mengajarkan cara menyaring dan memvalidasi informasi, bukan sekadar menyampaikannya.
- Perubahan karakteristik siswa — generasi sekarang terbiasa dengan visual cepat, interaktivitas, dan umpan balik instan (game edukasi, kuis digital), sehingga metode ceramah satu arah makin sulit mempertahankan fokus mereka.
- Tuntutan keterampilan 4C — kurikulum menuntut siswa menguasai critical thinking, creativity, collaboration, dan communication, yang berarti guru perlu merancang pembelajaran berbasis proyek dan pemecahan masalah.
- Beban administratif — penyusunan dokumen (RPP/Modul Ajar, rubrik penilaian, pelaporan) menyita waktu yang semestinya bisa dipakai untuk interaksi langsung dengan siswa.
Ditambah lagi, siswa SMA saat ini adalah digital native yang mudah bosan dengan pembelajaran monoton, mulai bergantung pada AI untuk mengerjakan tugas tanpa memahami prosesnya, memiliki rentang konsentrasi pendek akibat kebiasaan konten singkat seperti Reels dan TikTok, serta kerap kesulitan memilah kebenaran sumber informasi. Keragaman kemampuan akademik dalam satu kelas juga menuntut pendekatan yang lebih adaptif.
AI: Asisten Guru, Bukan Pengganti
Poin krusial yang ditekankan narasumber: AI tidak pernah dirancang untuk menggantikan guru. Ada batas jelas yang tidak bisa dilampaui AI — empati, teladan moral, dan kesadaran etis tetap menjadi wilayah manusia. AI hanya memproses teks dan data; ia tidak memiliki kesadaran moral maupun kemampuan membaca emosi siswa.
Namun di sisi efisiensi teknis, AI unggul jauh. Jika guru terbatas oleh waktu dan energi fisik, AI mampu membuat draf dalam hitungan detik. Karena itu, peran AI paling tepat diposisikan sebagai alat bantu pemrosesan data dan ide, sementara guru tetap menjadi mentor, fasilitator, dan “orang tua kedua” bagi siswa.
Beberapa cara konkret AI bisa membantu guru sehari-hari:
- Katalisator ide pembelajaran — membantu memikirkan ide permainan edukatif, skenario role-play, atau metode interaktif untuk materi yang sulit dipahami.
- Otomatisasi administrasi — menyusun kerangka Modul Ajar, merumuskan soal pemantik, atau merancang draf rubrik penilaian, yang tinggal dipoles guru.
- Personalisasi pembelajaran — menyederhanakan teks bacaan yang rumit menjadi beberapa versi sesuai tingkat literasi siswa yang berbeda dalam satu kelas.
Agar penggunaannya tetap sehat, ada empat prinsip bijak yang perlu dipegang guru: menerapkan human-in-the-loop (selalu validasi dan modifikasi hasil AI, jangan ditelan mentah-mentah), menjaga privasi dan data sensitif siswa, menegakkan integritas akademik dan transparansi, serta mempertahankan keaslian interaksi antara guru dan siswa.
Seperti disampaikan dalam sesi ini: “AI hadir bukan untuk menggantikan guru, tetapi menjadi asisten yang membantu guru memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh AI — yaitu membimbing, menginspirasi, dan membangun karakter peserta didik.”
Praktik Nyata: Membuat Video dan Gambar Pembelajaran dengan AI
Sesi berikutnya masuk ke ranah yang lebih teknis dan aplikatif: bagaimana AI bisa dipakai membuat konten visual pembelajaran, mulai dari gambar ilustrasi hingga video animasi pendek.
Langkah 1 — Mencari ide dengan chatbot AI. Guru bisa memulai dengan prompt sederhana, misalnya meminta lima ide untuk membuat video bertema tertentu sesuai kebutuhan materi.
Langkah 2 — Menyusun storyboard. Setelah ide ditemukan, langkah berikutnya adalah meminta AI membuatkan storyboard lengkap: pembagian scene, durasi tiap adegan, deskripsi visual, hingga narasi/dialog. Contoh yang didemonstrasikan adalah storyboard video edukasi karakter anak tentang kebiasaan bangun pagi, lengkap dengan detail prompt karakter utama (nama, usia, penampilan, gaya visual 3D ala animasi Pixar) untuk menjaga konsistensi tokoh di setiap adegan.
Langkah 3 — Memilih gaya visual. Ada banyak pilihan gaya ilustrasi yang bisa diminta ke AI, mulai dari watercolor, flat illustration, kartun, 3D kartun, kawaii/chibi, paper cut, hand drawn/sketch, gaya buku dongeng fantasi, vector clean style, hingga gaya vintage klasik — tinggal disesuaikan dengan karakter materi ajar dan usia siswa.
Langkah 4 — Produksi video dengan Google Flow. Narasumber mendemonstrasikan penggunaan Google Flow (labs.google/fx/tools/flow), sebuah studio kreatif berbasis AI dari Google. Alur kerjanya:
- Membuat karakter dengan memasukkan prompt deskripsi karakter, memilih jenis suara, lalu memberi nama karakter.
- Menyusun adegan dengan memasukkan prompt scene (termasuk narasi), menekan tanda tambah, lalu memilih karakter yang sudah dibuat untuk ditambahkan ke perintah.
Dengan alur ini, guru dapat menghasilkan video maupun buku cerita bergambar pendek untuk pembelajaran — misalnya cerita edukatif bertema karakter, kerukunan, atau tema islami — tanpa perlu keahlian animasi atau videografi profesional.
Membangun Simulasi dan Lab Maya Sendiri dengan AI
Materi ketiga membahas transformasi yang lebih mendalam: bagaimana guru SMA bisa membuat simulasi interaktif dan laboratorium maya sendiri menggunakan AI, tanpa perlu keahlian coding.
Kenapa siswa SMA butuh simulasi interaktif?
Ada tiga alasan utama:
- Materi abstrak dan sub-mikroskopis — siswa kesulitan membayangkan bentuk geometri molekul (Kimia), frekuensi gelombang (Fisika), atau sintesis protein (Biologi) hanya lewat gambar statis di buku.
- Skala waktu dan ruang yang ekstrem — proses pergerakan lempeng bumi dan tsunami yang berlangsung jutaan tahun bisa “dipadatkan” menjadi simulasi beberapa detik saja (Geografi).
- Keterbatasan lab fisik — mengatasi kendala alat lab yang rusak atau mahal, bahan kimia berbahaya, dan waktu jam pelajaran yang terbatas.
Revolusi dari sisi guru
Dulu, guru harus menunggu vendor atau penerbit membuat software lab maya, dengan biaya langganan yang mahal dan membutuhkan keahlian pemrograman rumit — guru hanya jadi “konsumen” pasif yang pasrah pada fitur yang tersedia.
Sekarang, dengan platform AI publik yang 100% gratis, guru bisa menjadi kreator langsung. Bahasa pemrogramannya cukup Bahasa Indonesia sehari-hari, dan guru bebas merevisi, menambah fitur, atau mengubah simulasi hanya dengan memberi perintah baru ke AI.
Beberapa contoh simulasi yang bisa dibuat hari ini:
- Fisika: simulator gerak parabola, di mana siswa bisa mengubah sudut meriam dan gravitasi (bumi vs. bulan) sambil melihat lintasan secara real-time.
- Kimia: simulasi titrasi asam-basa dengan grafik perubahan warna indikator dan kurva pH otomatis.
- Geografi: simulasi gesekan lempeng tektonik yang memicu gempa megathrust dan gelombang tsunami.
- Ekonomi/Matematika: visualisasi interaktif hukum permintaan-penawaran saat inflasi terjadi.
Rahasia utamanya: Prompt Engineering
Kualitas simulasi yang dihasilkan AI bergantung sepenuhnya pada seberapa detail prompt atau instruksi yang diberikan guru. Aturan emasnya: jangan hanya meminta “buatkan simulasi hukum Ohm” — jelaskan apa yang harus bisa ditarik, digeser, dan dihitung oleh siswa.
Narasumber membagikan formula 4 langkah untuk menyusun prompt simulasi yang efektif:
- Tentukan peran dan tujuan — misalnya, minta AI bertindak sebagai pengembang web edukasi dan buatkan simulasi interaktif untuk materi tertentu.
- Tentukan input/kontrol siswa — misalnya sediakan slider untuk mengubah nilai variabel tertentu dalam rentang tertentu, plus tombol reset.
- Tentukan perilaku dan visual — jelaskan bagaimana animasi/grafik harus berubah secara real-time saat siswa berinteraksi, dan rumus apa yang harus dihitung.
- Tentukan format output — misalnya minta hasil dalam satu file HTML tunggal (gabungan HTML, CSS, dan JavaScript) agar bisa langsung dijalankan di browser tanpa instalasi apa pun.
Sebagai studi kasus, ditunjukkan simulasi interaktif Hukum Ohm (V = I × R) yang dibuat dengan formula ini — lengkap dengan tampilan tegangan, arus, dan hambatan yang saling terhubung secara dinamis.
Sesi ini ditutup dengan hands-on workshop selama 20 menit, di mana setiap guru diminta memilih satu sub-materi dari mata pelajaran yang diampu yang paling sulit dipahami siswa jika hanya disampaikan lewat ceramah, lalu mempraktikkan formula 4 langkah tersebut menggunakan platform AI pilihan masing-masing (Gemini, Claude, atau ChatGPT).
beberapa contoh hasil bisa di lihat di s.id/alamatmu
Penutup
Pelatihan ini menutup dengan pesan yang menjadi inti dari seluruh rangkaian materi:
“AI tidak akan pernah menggantikan peran guru, empati, dan pedagogi di ruang kelas. Namun, guru yang memanfaatkan AI akan melampaui guru yang menolak menggunakannya.”
Lab maya dan konten visual berbasis AI hanyalah alat. Keajaiban sesungguhnya terjadi ketika guru menggunakannya untuk memantik rasa ingin tahu dan mendorong diskusi kritis di ruang kelas. Guru tidak perlu memusingkan bahasa pemrograman — biarkan AI menjadi “kuli kode”-nya, sementara tugas guru adalah menjadi arsitek pembelajaran itu sendiri.
Melalui IHT ini, SMA Muhammadiyah Kudus menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kompetensi guru di era digital, sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan bermakna bagi siswa.
Materi bisa di lihat di : https://script.google.com/macros/s/AKfycbzNx1ppPKBYi6NUQuODu8wPHcdppSKFAFDEe1SaZ2eurh3faxesaSbV_Zlhz2n6TZQe/exec


Artikel ini disusun berbantuan Claude