Menghidupkan Karakter Anak Indonesia Hebat dengan AI: Cerita dari Pelatihan Bimbingan Konseling Kota Semarang

Akhir Juni lalu, saya berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Penguatan Karakter Melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Bimbingan Konseling yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang, bekerja sama dengan BBPMP Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 29 Juni–1 Juli 2026, di Hotel Muria Semarang, dan dihadiri oleh guru-guru SD dari berbagai sekolah di Kota Semarang.

Tema besar yang diusung sejalan dengan Program Kerja Bidang Pembinaan SD, Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SD Dinas Pendidikan Kota Semarang: bagaimana menanamkan kebiasaan baik pada anak sekaligus memperkuat peran bimbingan konseling di jenjang SD. Dalam sesi yang saya bawakan, fokusnya bukan sekadar teori, melainkan bagaimana teknologi—khususnya kecerdasan artifisial (AI)—bisa menjadi alat bantu nyata bagi guru dalam menanamkan dan memantau 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (bangun pagi, taat beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur cepat).

Ada dua hal besar yang saya bagikan ke peserta: membuat konten edukatif berbasis AI, dan membangun aplikasi pelaporan pembiasaan karakter yang bisa langsung dipakai sekolah tanpa biaya server maupun keahlian coding tingkat tinggi.

1. Guru Sebagai Kreator Konten, Bukan Sekadar Pengguna

Salah satu keluhan yang sering saya dengar dari rekan-rekan guru adalah minimnya konten edukatif yang benar-benar “nyambung” dengan karakter siswa dan konteks lokal mereka. Materi dari internet memang banyak, tapi jarang yang pas dengan bahasa, budaya, dan kebutuhan anak-anak di kelas masing-masing.

Di sinilah AI generatif seperti ChatGPT dan Google Flow menjadi solusi. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa proses membuat buku cerita bergambar atau video edukasi pendek—yang dulu membutuhkan tim penulis, ilustrator, dan editor—kini bisa dilakukan sendiri oleh guru hanya bermodalkan ide cerita dan instruksi (prompt) yang jelas.

Alurnya kurang lebih begini:

  • Menyusun ide lewat ChatGPT. Guru cukup menuliskan prompt sederhana, misalnya meminta storyboard video edukasi tentang salah satu kebiasaan (contohnya bangun pagi), lengkap dengan narasi berbahasa Indonesia dan gaya visual yang diinginkan. ChatGPT akan membantu menyusun alur cerita, dialog, deskripsi karakter, hingga pesan moral secara utuh.
  • Mewujudkan visual lewat Google Flow. Hasil storyboard dari ChatGPT kemudian dijadikan bahan untuk membuat karakter dan adegan di Google Flow—platform AI generatif dari Google yang bisa mengubah instruksi teks menjadi ilustrasi, storyboard, bahkan video animasi sederhana. Kuncinya ada pada konsistensi karakter: sekali karakter dibuat dan diberi nama, karakter itu bisa dipanggil kembali di setiap adegan agar wajah dan gaya tokoh tetap sama dari awal hingga akhir cerita.

Peserta juga diingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu. Guru tetap memegang kendali penuh: memastikan isi konten sesuai usia anak, menjaga nilai karakter yang ditanamkan, menyisipkan kearifan lokal, dan menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab.

2. Dari Kertas ke Aplikasi: Digitalisasi Pelaporan 7 Kebiasaan

Sesi kedua menjawab persoalan klasik: bagaimana memantau kebiasaan baik ratusan siswa setiap hari tanpa terjebak tumpukan kertas dan rekap manual yang menyita waktu?

Saya mengajak peserta membangun sendiri aplikasi pelaporan G7Kaih, menggunakan kombinasi Google Sheets dan Google Apps Script yang sepenuhnya gratis, dibantu oleh AI (Gemini) untuk menulis kodenya. Guru tidak perlu menyewa hosting, membeli domain, atau menguasai bahasa pemrograman dari nol.

Alur pengembangannya:

  • Menyiapkan database di Google Sheets, dengan tiga sheet utama: Data Siswa, Guru, dan Laporan, masing-masing dengan struktur kolom yang rapi agar aplikasi dapat membaca datanya dengan benar.
  • Meminta Gemini menulis kode aplikasi, cukup dengan prompt yang mendeskripsikan kebutuhan aplikasi secara detail: tiga tab utama (Siswa, Guru, Orang Tua), tujuh indikator kebiasaan sebagai checklist harian, dashboard guru untuk memantau dan menyetujui laporan secara massal, hingga fitur rekap bulanan otomatis lengkap dengan kategori “Terbiasa”, “Cukup Terbiasa”, dan “Belum Terbiasa”.
  • Menempelkan kode ke Apps Script, memisahkan file backend (Kode.gs) dan tampilan (Index.html), lalu melakukan deployment sebagai aplikasi web.
  • Membagikan tautan aplikasi ke siswa dan orang tua, sehingga siswa bisa mengisi laporan kebiasaan langsung dari HP, orang tua bisa memantau perkembangan anak dari rumah, dan guru cukup memantau dashboard tanpa perlu merekap manual satu per satu.

Yang menarik, arsitektur ini fleksibel. Peserta yang sudah terbiasa dengan promptnya bahkan bisa mengembangkan aplikasi lain dengan pola serupa—misalnya form pendaftaran digital lengkap dengan fitur tanda tangan elektronik—cukup dengan menyesuaikan instruksi yang diberikan ke AI.

Semangat di Balik Pelatihan

Bagi saya, inti dari pelatihan ini bukan sekadar “cara pakai tools baru”, melainkan mengajak guru untuk berani mencoba dan tidak takut salah. Banyak peserta yang awalnya ragu karena belum pernah menyentuh coding sama sekali, tapi begitu melihat bahwa AI bisa menjadi mitra kreatif—bukan pengganti peran guru—semangat mereka untuk berkarya justru semakin besar.

Pendidikan karakter memang bukan proses instan. Ia butuh pembiasaan, pemantauan, dan keteladanan yang konsisten. Dengan pemanfaatan AI secara bijak—baik untuk membuat konten edukatif yang dekat dengan dunia anak, maupun untuk membangun sistem pelaporan yang efisien—guru-guru di Kota Semarang kini punya alat tambahan untuk mewujudkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara lebih nyata di sekolah masing-masing.

Terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang dan BBPMP Provinsi Jawa Tengah atas kepercayaannya. Semoga apa yang dibagikan di ruang pelatihan bisa terus tumbuh dan dipraktikkan di kelas-kelas kita.


Materi lengkap dan panduan langkah demi langkah dapat dibaca di:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses